gigi susu
obrolan January 29th, 2010Kami, tepatnya istriku menamakannya, gigi susu. Entah apa artinya, tapi saya suka nama itu. gigi susu. lucu.
“gigi susu kan akan tanggal, pupak, copot,” itu pernyataan pertama yang terlontar dari mulut saya.
“Ndak copot. Ini kan rumah awal kita, nanti akan ada rumah lainnya lagi, ada gigi gigi lain. gigizusu gigizuzu,” jawab istriku sembari memainkan lafal gigi susu dengan mencoba mengganti `s` dengan `z` melewati spasi kata yang ada.
Percakapan ini terjadi saat kami baru saja teken penyerahan jiwa ke bank. September 2009.
Terus mengayut manja di pundak. istriku terus mengutarakan impiannya mengisi rumah mungil kami dengan perabot minimalis, dapur mungil yang bersih dan sebuah taman rindang nan sejuk dipelataran halamannya.
Hampir lupa, gigi susu adalah sebutan untuk rumah kami, yang kami miliki lewat cicilan KPR bank beraliran syariah, plus hutang kuperasi kantor dan hutang kepada sanak saudara lainnya.
“Yah,” begitu istriku memanggil semenjak pernikahan kami 12 Juli 2008 silam. Saya sendiri tetep memanggil istri saya dengan pangilan `Bun` asal kata dari `Buni`.
“Nanti cari perabot minimalis, trus lampu yang fungkeh. biar keren,” ucapnya kali ini dengan senyum jenaka.
“Beres Bun.”
Sambil melingkarkan tangan ke tubuhnya yang sekarang lebih gemuk, saya berdoa dalam hati. nyuwun sama gusti pangeran agar kami bisa menyelesaikan cicilan rumah. dan berharap, kami berdua segera bisa tinggal satu atap satu rumah. Maklum, kami berdua memang masih hidup berjauhan. Saya di Malang, sedangkan Buniku ada di kota udang Cirebun.
Gigi susu kami ada di Kota Malang, kota yang menawarkan kesejukan. Semula bertipe standar. dengan luas bangunan 39 meter persegi tanpa adanya dapur. Tetapi berkat bantuan pakde, rumah kami jadi lebih lapang, renovasi membuat kami punya ruang tengah yang lapang, dapur mungil yang cantik, kamar mandi yang lebih luas, dan dak di atas dapur yang bisa buat njemur katok.
Kepala tiba tiba mumet, mikir masih banyaknya hutang yang harus ditanggung.
*btw, sorry, buat kawan kawan yang komenntnya kehapus, benar benar blog kacrut, suka men del sendiri beberapa komen*














February 1st, 2010 at 6:27 am
aha. aku seneng tulisanmu iki cak. maknyus dan inspiring. pengin tuku omah juga.
@ ipul |ayo cak, ga kesuwen. ndang KPR eh sampeyan iso tuku kontan dink hehehe
February 2nd, 2010 at 3:46 am
wahhh manteb
@ mbak vivink | manteb utange juga… :p
February 2nd, 2010 at 6:39 am
Wah sudah punya rumah sendiri.. Hebat mas.. Saya malah masih ngikut ortu dulu..
@ mas anas | hehehe, kabeh ono wayahe mas, semua ada masanya… nati juga akan punya rumah dewe yang gede dan bagus