Koin dari Malang untuk Prita Rp 1,3 Juta Lebih*

bermutu 6 Comments »

MALANG —Uang koin yang dikumpulkan Aliansi Jurnalis Malang Raya hingga penghitungan final pada Minggu (13/12) siang berjumlah Rp 1.379.800. Seluruh uang koin dikumpulkan sejak Rabu (9/12) sore.

Karena antara waktu penghitungan dan pemberangkatan seluruh sumbangan makin pendek atau mepet, maka tim pengumpul sekaligus penghitung terpaksa tidak menerima lagi sumbangan uang koin dari beberapa warga. Pengumpulan uang koin ditutup hari ini karena pusat pengumpulan uang koin serupa di Jakarta segera melakukan penghitungan final pada Senin (14/12), pukul 21.00.

Seluruh uang dipercayakan kepada seorang wartawan untuk dibawa ke Jakarta. Diusahakan seluruh uang bisa diterima langsung Prita Mulyasari atau diserahkan kepada pos koordinasi utama Koin Peduli Prita.

Sumbangan terakhir yang diterima pada Minggu siang ini berasal dari Gatot Sujono, dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Mewakili rekan-rekannya, Gatot menyerahkan uang recehan sebanyak Rp 110.100.

Pada Sabtu kemarin, sumbangan yang diterima berjumlah Rp 301.850. Sumbangan berasal dari karyawan pabrik karoseri Gunung Mas di Gondanglegi sebanyak Rp 97.100, ditambah sumbangan dari guru dan murid Sekolah Dasar Islam Salafiyah Khairuddin, Gondanglegi, Kabupaten Malang, sebanyak Rp 204.750.

Dalam catatan tim penghitung, penyumbang terbanyak lain adalah wartawan dan warga di Kota Batu yang pada hari pertama menyumbangkan Rp 387.300. Karyawan di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur III juga menjadi penyumbang terbanyak. Pada Jumat (11/12) mereka menyumbang koin sebanyak Rp 377.225 yang penyerahan uangnya diwakili Ambar Setiawan.

Usai penghitungan diketahui, total sumbangan uang recehan yang diterima terdiri dari 4.454 keping seberat 14,6 kilogram. Uang pecahan Rp 500 menjadi uang koin terbanyak (2.067 keping atau Rp 1.038.000) dan terberat (8,5 kilogram). Uang koin Rp 100 ada sebanyak 1.730 keping atau setara dengan Rp 173 ribu, dengan berat 3,5 kilogram.

Berikutnya uang pecahan Rp 200 sebanyak 568 keping atau Rp 113.600 dan beratnya Rp 1,5 kilogram. Selebihnya uang pecahan Rp 1.000 sebanyak 54 keping atau Rp 54 ribu, serta 33 keping uang pecahan Rp 50 (Rp 1.650) ditambah 2 keping uang pecahan Rp 25 alias Rp 50.

Sebenarnya tim menerima sejumlah uang kertas dengan nominal dari Rp 5 ribu sampai Rp 100 ribu. Seluruh uang kertas ini kemudian ditukarkan dengan uang koin sehingga jumlah koin yang dikumpulkan bertambah banyak dan berat.

Prita Mulyasari adalah terdakwa perkara perdata dan perkara pidana dugaan pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni International Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan. Namun, RS Omni sudah mencabut gugatan perdata tanpa syarat sehingga denda Rp 204 juta dihapus pula.

Meski gugatan perdata sudah dicabut, penyerahan uang koin tetap dilakukan dengan harapan nantinya seluruh uang koin yang dikumpulkan dapat berguna untuk membiayai kegiatan-kegiatan sosial, semisal membantu orang-orang kecil yang terbelit perkara hukum tapi tak mendapatkan keadilan atau malah terzalimi seperti yang dialami Prita.

Sedangkan perkara pidana yang dihadapi perempuan berumur 32 tahun itu sudah memasuki tahap replik, yakni tanggapan jaksa penuntut umum atas pembelaan penasihat hukum Prita. Persidangan dilangsungkan di Pengadilan Tinggi Banten.

Aliansi Jurnalis Malang Raya berunsurkan organisasi AJI Malang, Persatuan Wartawan Indonesia, Jurnalis Kanjuruhan, Forum Komunikasi Wartawan Batu, Forum Wartawan Kota Malang, serta wartawan yang tidak bergabung dalam organisasi wartawan mana pun.

Penyumbang bukan cuma hanya wartawan, melainkan banyak warga yang bersimpati terhadap nasib Prita. Ada guru, pelajar, juru parkir, penjual bakso, penjahit, dan pengamen.

*naskah by Abdi Purmono

Dari Malang Untuk Prita

bermutu No Comments »

Aliansi Jurnalis Malang Raya mengumpulkan uang koin lebih dari Rp 500 ribu. Uang akan disumbangkan kepada Prita Mulyasari (32 tahun), terdakwa perkara perdata dan perkara pidana dugaan pencemaran nama baik Rumah Sakit Omni International Alam Sutra, Serpong, Tangerang Selatan.
“Pengumpulan uang koin atau uang recehan dilakukan secara spontan mulai kemarin sore. Namanya juga spontanitas, tak semua teman wartawan tahu, apalagi kami tidak pakai posko,” kata Endik Junaedi, wartawan Surabaya Pagi, Kamis (10/12).
Menurut Endik, uang yang terkumpul berasal dari wilayah Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Yang menyumbang bukan hanya wartawan, tapi warga yang bersimpati terhadap nasib Prita, termasuk para pelajar SMA Negeri 1 Malang. Ada juga sumbangan dari tukang parkir, pedagang asongan, dan penjual bakso.
Uang recehan yang terkumpul bukan berupa koin saja, tapi banyak juga yang menyumbangkan uang kertas dengan nominal pecahan Rp 1.000 hingga Rp 100 ribu. Pengumpulan uang recehan akan dilakukan hingga Sabtu karena masih banyak wartawan yang belum tahu adanya aksi tersebut.
Rencananya, seluruh uang yang terkumpul akan diserahkan langsung ke Prita maupun ke Posko Peduli Prita oleh seorang wartawan yang ditunjuk. “Diusahakan seluruh uang sudah diserahkan sebelum seluruh sumbangan dihitung oleh posko di sana pada Senin depan,” kata koordinator Forum Komunikasi Wartawan Batu itu.
Dyah Ayu Pitaloka, anggota Divisi Dana dan Usaha Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, menambahkan, jumlah bantuan yang diberikan relatif sedikit. Tapi yang pesan yang ingin disampaikan dari aksi pengumpulan duit recehan itu adalah memperjuangkan keadilan bagi Prita dan seluruh warga masyarakat yang acap kali tak mendapat keadilan sebagaimana mestinya.
Prita sendiri masih menjalani persidangan di Pengadilan Tinggi Negeri Tangerang. Perkara pidana yang dihadapi Prita kemarin memasuki tahap replik, yakni tanggapan jaksa penuntut umum atas pembelaan penasihat hukum Prita. Sedangkan dalam perkara perdata, Prita telah mengajukan kasasi atas keputusan Pengadilan Tinggi Banten yang mengharuskan istri Andri Nugraha itu mengganti kerugian kepada RS Omni Internasional sebesar Rp 204 juta.

foto : nothing

naskah : abel

jual kaos jurnalis

bermutu No Comments »

jual kaos, tema jurnalistik.

cocok bagi sampeyan yang jurnalis ataupun sampeyan yang suka nulis, meski bukan jurnalis. sumprit. ga ngapusi.

buat kado juga pas.

harganya murah kok,

Rp 60.000 – Blue Navy (not black) | for male & female | (belum termasuk ongkos kirim)

kalo mau pesan, bisa japri ke saya : namakuwahyu@gmail.com

Matthew Arnold (1822-1888) has been characterized as a sage writer, a type of writer who chastises and instructs the reader on contemporary social issues. ( sumber : wikipedia )


Livescores Liga Indonesia

bermutu 5 Comments »

memang belum sempurna dan lengkap kaya livescores.com, tapi apa yang telah dilakukan goal.com untuk live scores Liga Super Indonesia tetap harus diacungi dua jempol.

hasil lebih cepat diketahui, ndak perlu telpun sana sini, ga perlu nunggu kiriman kantor berita antara yang kadang lama. pewarta olahraga pun lebih enak dan cepat bikin klasemen, ga usah nunggu dari situsnya PSSI atu liga endonesa sing kadang ajaib.

sip sip, jaya lah liga indonesia, hiburan sepakbola sebenarnya.

dan arema yang jadi juara, hehehehe. setujukah sam hedi,

ayo nyanyi, lets sing. `arema juara liga endonesia, aremania pesta narkoba`

Bakri Lebih Kaya dari Nabi Sulaiman

bermutu 8 Comments »

Esei Bangbang Wetan, Emha Ainun Nadjib
tulisan ini ditampilkan di Harian SURYA, edisi Sabtu 15 Desember 2007
Lupa tahun berapa. Pak Harto masih berkuasa. ABRI dan Golkar sedang kuat-kuatnya. Menteri Agama waktu itu Pak Tarmidzi Taher, Pangdam Jatim Pak Hartono Banyuanyar
Madura, Gubernur Jatim mungkin Pak Basofi Sudirman. Seingat saya ketiga beliau hadir
di BPPM Pondok Gontor Ponorogo siang itu bersama Bambang Tri Hatmojo boss Bimantara.

RCTI meliput acara itu untuk siaran tunda, dipimpin langsung oleh direkturnya: Andy
Ralli Siregar. Waktu itu RCTI masih sempit wawasan dan pengalaman pasarnya, sehingga menyangka saya dan KiaiKanjeng layak tayang.
Kesempitan wawasan itu segera dibayar dengan pernyataan pengunduran diri sang Direktur hanya beberapa puluh menit sesudah saya dan KiaiKanjeng naik panggung.

Pasalnya, beberapa menit saya di panggung, saya dikasih kertas kecil berisi peringatan agar saya hati-hati bicara terutama karena ada anaknya Pak Harto. Maka saya benar-benar sangat berlaku hati-hati. Saya mengangkat tangan kiri dengan hati-hati, telunjuk saya luruskan dengan hati-hati dan saya tudingkan ke arah Bambang Tri Hatmojo.

Tangan saya adalah anugerah Allah yang sangat mahal, sehingga saya gunakan pula untuk menuding orang yang paling mahal dan penting.
“Bambang Tri!”, kata saya dengan hati-hati.
“Nanti pulang ke rumah bukalah buku catatan kekayaanmu. Coba dihitung dengan seksama berapa persen yang halal, berapa persen yang haram dan berapa persen yang syubhat….”

Karena atmosfir suasana dan wajah semua orang yang hadir terutama para pejabat tinggi menjadi sangat tegang dan kebingungan.
saya meneruskan : “Saya tahu kata-kata dan sikap saya sangat menusuk dan menyakitkan hati Bung Bambang, tetapi mohon diingat bahwa itu hanya secipratan dibandingnya sakitnya hati rakyat selama ini…”

Setelah itu bisa dibayangkan sendiri apa yang terjadi, bagaimana nasib saya, bagaimana nasib Kiai Gontor yang sesepuh saya di hadapan Pak Harto, bagimana nasib Direktur RCTI di depan pemilik Bimantara Bambang Tri Hatmojo dst.

Apalagi ketika kemudian mendadak MC berdiri dan memotong pembicaraan saya dengan mengatakan, “Saudara-saudara demikianlah tadi telah berlangsung seluruh rangkaian acara….”

Spontan dengan hati-hati saya menggebrak meja dan saya bentak MC itu dan saya suruh turun panggung….
Kalau Anda hadir di Bangbang Wetan insyaallah ada kemungkinan saya kisahkan secara
lebih detail apa yang kemudian terjadi. Suharto masih sangat berkuasa, tentara dan
polisi ada di mana-mana karena Pangdam hadir Menteri hadir dan terutama anaknya Pak
Harto hadir.

Jangan dibandingkan dengan situasi sekarang. Ketika Orba semua orang “ndelosor” ketakutan. Beda dengan di masa reformasi, sekarang ini: semua orang pemberani, hebat-hebat, kritis, progresif dan berani melawan siapa saja. Di masa reformasi semua orang bangkit, semua orang bisa jadi Menteri, semua orang bisa jadi Gubernur, anggota DPR, Bupati, Walikota…

Kecuali saya. Saya sangat penakut begitu era reformasi berlangsung. Sehingga kalau umpamanya saya terlibat dalam suatu forum di mana ada Aburizal Bakri, saya jamin saya tidak akan berani mengucapkan kalimat seperti yang saya ucapkan di depan umum
kepada Bambang Tri Hatmojo : “Bung Ical, nanti pulang ke rumah bukalah buku catatan
kekayaanmu. Coba dihitung dengan seksama berapa persen yang halal, berapa persen
yang haram dan berapa persen yang syubhat….”

Mungkin karena beliau saya bayangkan lebih kaya dibanding Nabi Sulaiman, meskipun hal itu harus diinvestigasi. Mungkin juga karena dalam pemetaan struktural global
seperti sekarang belum ada pasal-pasal fiqih yang bisa dipakai sebagai parameter untuk mengukur apakah uang yang itu halal atau haram.
Kausalitas, sebab akibat, asal muasal, ujung pangkal dan sangkan paran setiap lembar uang di tangan seseorang sangat susah ditentukan posisi fiqhiyahnya, halal haramnya.

Yang saya mampu lakukan adalah tiga hari yang lalu khushusan dari Jakarta saya datang ke Sidoarjo untuk berkumpul dengan sekitar 120 perwakilan dan tokoh-tokoh masyarakat korban lumpur yang berjumlah sekitar 11.600 KK atau sekitar 47.000 orang, di luar 290 KK yang masih tinggal di Pasar Porong.
Sebelum itu saya temui dulu Bupati Sidoardjo untuk memastikan di mana “alamat” beliau dalam peta lumpur hari ini dan ke depan.

Alhamdulillah Sidoardjo solid. Nanti Pebruari Sidoardjo Bangkit. Kami menyepakati sejumlah prinsip secara penuh tekad bulat, menyusun sekian agenda bertahap ke depan. Monggo saja.

Design by j david macor.com.Original WP Theme & Icons by N.Design Studio | hosted by Jagoo! Indonesia
Entries RSS Comments RSS Log in